Wednesday, February 16, 2011

Dilarang Mengolok-olok (walaupun bercanda)

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS 49 :11)

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman... (QS 9 : 65-66)

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS 2 :15)

Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan. (QS 21: 41) 

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.  (QS 31 : 6)

Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. (QS 45 : 9) 



Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain, juga terlalu banyak hadist-hadist maupun atsar para Sahabat Radhiallahu 'anhu jami'an.

Maka dilarang seorang muslim mengolok-olok Allah dan Rasul Nya, Al Qur'an dan Sunnah, dan segala sesuatu yang termasuk syariat. Dilarang menjadikan syariat Islam sebagai bahan lawakan, bahan lelucon untuk membuat orang tertawa.

Dilarang muslim mengolok-olok saudaranya yang sedang mengamalkan sunnah (petunjuk) Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Misalnya mengolok-olok muslimin yang memanjangkan jenggot, ataupun muslimah yang memakai jilbab, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan syariat.

Dilarang mengolok-olok muslim yang sedang berusaha menjauhi bid'ah (perkara baru yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada syariatnya). Misalnya mengolok-olok muslim yang menghindari perayaan maulid Nabi, Nuzulul Qur'an, Isra' Mi'raj, tahun baru hijriah, dsb.

Bahkan dilarang memanggil dengan gelar-gelar, julukan, kunyah yang buruk. Misalnya memanggil orang bertubuh pendek dengan sebutan "boncel", "ceper", "si pendek", "cebol", "tiarap", dsb. Atau semacamnya seperti: "si hitam", "si buntung", "si tonggos", "si juling" dsb.

Contoh-contoh yang disebutkan di atas adalah perkara yang seringkali terjadi di sekitar kita, dianggap lumrah bahkan disepelekan. Na'udzubillah.

Ketika syubhat mengatakan:
Saya gak bermaksud menghina kok, kan dia juga mau (bahkan menyukai) dipanggil "boncel".

Maka katakan: 
Takutlah kepada Allah dan hentikan kebiasaan itu. Allah memerintahkan untuk memanggil dengan gelar yang baik, bukan dengan gelar yang buruk. Azab Allah sangat pedih bagi yang melanggar perintah Nya.

Ketika Allah memerintahkan manusia untuk tidak mendzalimi orang lain, apakah anda akan menjawab "orang itu suka didzalimi kok", begitukah?

Kalaupun dia menerima dengan panggilan itu, lantas bagaimana perasaan orang tuanya (yang memberi nama) seandainya mengetahui anaknya dipanggil dengan gelar yang buruk? Bukankah itu juga menyakiti perasaan kerabat-kerabatnya yang lain?

Ketika syubhat mengatakan:
Kan orang tuanya gak tau, jauh ada di kampung, atau sudah meninggal.

Maka katakan: 
Ketika Allah melarang tindakan pencurian, apakah anda akan menjawab "kan mereka gak tau", begitukah? padahal Allah maha megetahui dan maha benar janji maupun ancaman-Nya.


Becanda itu boleh-boleh saja, bahkan banyak riwayat shahih tentang bercandanya Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Tentang anak onta, nenek tua, dsb. Wajah Nabi bercahaya karena selalu ceria, ramah, murah senyum berseri-seri, dsb. Akan tetapi becandanya Nabi adalah candaan yang cerdas, tidak merendahkan dan tidak menyakiti hati orang lain, apalagi menjadikan ayat-ayat sebagai lawakan. Ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan lelucon, bukan seperti yang sering kita jumpai, isinya hanya menghina, membahas sesuatu yang jorok, bahkan syariat diolok-olok. Berusahalah menjadi orang yang cerdas.

Wallahu a'lam.

5 comments:

  1. maaf QS 49 : 11 terjemahannya kurang lengkap

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. jika memanggil ses0rg dgn pngglan yg tidak di kehendaki atau di sukai 0rg itu bgaimna hkumnya

    ReplyDelete
  4. info yang sangat bermanfaat sob

    ReplyDelete
  5. Anonymous4:55 PM

    SAYA boleh minta dalil naqli yang bahasa ARAB NYA?

    ReplyDelete